Jum’at, 6 november 2015 adalah hari
dimana aku akan berangkat menuju sebuah tempat, tempat dimana aku bisa
merasakan kenyataan hidup yang kadang tidak seperti apa yang di inginkan,
disanalah aku akan tinggal melakukan “live in” bersama 30 orang peserta lainya
yang kuanggap keluarga sendiri menetap sementara sampai hari minggu, sementara
mereka, tempat yang akan aku tumpangi itu akan menetap disana hingga seterusnya
tanpa kepastian, kita semua tahu betul bahwasanya tanpa kepastian hati akan
terasa tidak nyaman, akan merasa bimbang, disanalah aku akan melihat kenyataan,
tempat untuk merenung, tempat untuk mensyukuri lebih dalam akan apa yang telah
dianugerahkan oleh tuhan yang maha kuasa, disanalah, di kebun sayur ciracas.
Malam itu aku berangkat dengan
kendaraan mewah yang sangat merakyat, sesampainya disana aku heran, heran
sekali melihat bahwa tempat yang bisa dibilang kurang layak dijadikan tempat
tinggal ini bersebrangan dengan rumah-rumah besar, terngiang dalam kalbuku
seberapa dalam penderitaan orang –orang yang ada di kebun sayur ciracas,
seberapa mereka mungkin merasa iri hati dengan apa yang dimiliki tetanganya,
atau mungkin mereka ikhlas dengan hal itu semua? Inilah saatnya aku harus
belajar banyak tentang kehidupan, untuk kita renungkan.
Aku bertemu dengan “mama” yang akan
menjadi ibu asuhku selama beberapa hari, beliau dipanggil dengan mama ana,
karena beliau memiliki putri bernama ana yang berumur kurang dari tiga tahun
namun cerdasnya luar biasa, aku tinggal bersama dengan temanku Deni, singkat
cerita kami tiba di kediaman mama ana, sebuah rumah semi permanen berukuran 6x6
meter mungkin, yang hanya ada dua buah lampu didalamnya. Kondisi kebun sayur
ciracas saat itu dalam kondisi kekeringan, namun air tersedia di rumah mama
ana, meskipun dengan rasa air yang khas itu, tapi cukup lah untuk sekedar
bersih-bersih.
Sabtu pagi, 7 november 2015, aku
memulai hariku dipagi hari berkumpul bersama peserta yang lainya di lapangan,
sedikit briefing dan olahraga, lalu apa yang harus aku lakukan? Ingin membantu
banyak tentunya, namun apalah yang bisa aku perbuat hanya menemani ana bermain,
semoga itu sudah cukup menyenangkan hati keluarga mama ana. Keluarga mama ana
sehari-hari berjualan es cendol, namun sayangnya hujan turun dihari itu, hingga
mengurungkan niat untuk berjualan, sayang sekali, sehingga yang bisa aku
lakukan ya hanya menemani ana bermain seharian penuh, berkeliling kebun sayur
ciracas dengan sedikit kehujanan menggunakan payung alami yaitu daun pisang,
kebahagiaan ini memang tidak seberapa, namun melihat senyum yang terukir
membuatku terus bersemangat menemani ana bermain yang tiada hentinya hingga
petang datang.
Malam hari aku dan peserta lainya
berkumpul dan berbagi cerita tentang apa yang telah dilakukan sepanjang hari, banyak
yang ikut orangtua asuhnya ke kebun, ada juga yang menyiungi bawang, dan ada
aku yang menjadi baby sitter seharian. Setelah berbagi cerita, aku dan peserta
lainya dibawa ke lapangan dengan mata yang tertutup oleh almamater, lalu kami
didengungkan oleh orasi-orasi abang-mbak senior kami yang menyemangati darah
juang ini. Malam pun berakhir, aku kembali pukul 11 malam dan menemukan semua
orang dirumah sudah tertidur.
Minggu pagi, ada pengumuman mengenai
pembangunan jalan, aku dan peserta laki-laki lainya turut andil membantu
membangun jalan itu, jalan yang dibuat dengan swadaya, bersama-sama jalan itu
pun bisa dibuat. Lalu kami, para peserta ditugaskan membuat acara untuk
anak-anak di kebun sayur ciracas, tema yang kami angkat adalah nasionalisme,
sehubugan juga dengan hari pahlawan yang akan diperingati dua hari lagi.
Acaranya berlangsung seru dan meriah, aku, kamu, kita semua, semua orang
mengukir senyuman lebar sepanjang acara ini berlangung, bahagia rasanya bisa
membuat anak-anak ini tersenyum.
Hingga sampailah pada waktu disaat
aku harus kembali kenyataanku sebagai mahasiswa, kembali lagi beraktivitas
dengan segala tugas dan kewajiban sebagai mahasiswa, aku pun harus berpamitan
kepada seluruh warga kebun sayur ciracas, khususnya juga kepada ana, mama ana
dan semua keluarganya, namun ini bukanlah akhir, ini adalah awal pembuka dari
perjuangan.
Selama dua hari dua malam aku tinggal
di tempat yang sebenarnya kurang layak disebut sebagai tempat tinggal itu aku
menemukan bahwasanya kebahagiaan itu tidak bisa ditentukan dengan materil
semata, aku belajar bahwa untuk menjadi bahagia itu sebenarnya sederhana,
kehidupan ini memang hanya permainan belaka, namun kita harus terus bekerja dan
berjuang sampai ajal menjemput, bekerja dan berjuang untuk bisa menjadi orang
yang berguna bagi orang lain, karena menjadi manusia yang sesungguhnya adalah
menjadi manusia yang berguna bagi sesamanya. Disini juga aku menyadari apakah
aku masih kufur nikmat, atas apa yang telah diberikan tuhan kepadaku, nikmat
bahwa aku bisa menjadi sebagian kecil anggota masyarakat yang bisa mengenyam
bangku perkuliahan, oh tuhan ampunilah hambamu ini andaikata masih kurang
banyak bersyukur kepadamu, sungguh aku telah banyak lalai dalam menggunakan
karunia mu, berikanlah aku jalan yang terbaik dalam menempuh kehidupan ini, aku
hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, untuk itu, inilah, suatu hal
yang pantas untuk kita renungkan.
with Deni, mama ana, Ana, and Me!