Tuesday, December 8, 2015

CORRUPTIO


Korupsi secara Bahasa menurut KBBI berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Mengambil dari artian diatas dapat dipahami bahwasanya korupsi adalah perbuatan yang salah.
Ah, tulisan diatas nyatanya begitu ilmiah untukku yang terlalu awam ini, buatku, ketika aku bertanya kepada khalayak umum mengenai korupsi, mereka menunjukan wajah suramnya, bercerita kelah-keluh mengenai betapa terlukanya negri yang katanya kita cintai bersama ini, yang kemerdekaanya diperjuangkan secara swadaya bersama-sama, namun telah diciderai oleh maraknya korupsi.
Terluka, ya terluka…  terlalu banyak luka yang tertancap begitu dalam yang dilakukan oleh segelintir oknum-oknum yang menyatakan dirinya berkhidmat untuk masyarakat, nyatanya, apa yang mereka lakukan hanya membesarkan perut mereka sendiri, mementingkan dirinya sendiri dengan mengatasnamakan rakyat, tamak! Begitulah predikat yang pantas diberikan kepada mereka yang teganya menjual negara ini begitu murahnya.
Hari ini kita bisa melihat betapa hilangnya rasa malu atas tindakan korupsi, kebanyakan dari para koruptor yang telah tertangkap itu masih bisa tersenyum lebar didepan kamera, masih bisa menyatakan alibi-alibinya, padahal mungkin dalam hatinya ia berteriak meringis menyesali apa yang ia perbuat, atau mungkin kalbunya telah mati, tertutup oleh gemerlap harta yang haram itu? Yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak baik, yang berujung ke rumah pesakitan.
Meskipun pemberantasanya telah diusakan dengan semaksimal mungkin, namun masih saja banyak tindakan korupsi ini yang masih belum terlihat, mereka-mereka yang dengan tega dan ringanya menjual negara ini, yang masih belum terjerat oleh payung hukum. Dibutuhkan usaha bersama untuk memberantas korupsi, dibutuhkan semua lapisan elemen masyarakat untuk membersihkan negri pertiwi yang kita cintai ini dari korupsi, agar kekayaan negara yang seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat umum tidak hanya untuk menyejahterakan sebagian kecil oknum-oknum pelaku tindak korupsi. Keadilan harus ditegakkan apapun resikonya, karena kehidupan yang tidak adil hanya akan membuat masyarakat makin sengsara, yang membuat mereka mempertanyakan kemerdekaanya.
Namun apakah pantas jika korupsi dikatakan sebagai budaya di Indonesia? Ironis memang kalau kenyataanya terlihat seperti itu, tidak hanya korupsi yang merugikan negara milyaran-triliunan rupiah, namun juga menjadi kebiasaan berkorupsi pada hal-hal kecil ini menjadi penyakit kronis bangsa ini, untuk itu sebelum kita merubah negri ini ada baiknya melihat kepada diri sendiri, berkaca kembali, mulai dari memperbaiki diri sendiri dengan tidak melakukan korupsi, entah itu secara materil atau nonmaterial. Jika nanti seluruh masyarakat telah memperbaiki dirinya, maka negri ini pun bisa dengan mudah diperbaiki. Mulai dari diri sendiri, keluarga, tentangga, hingga bangsa, ayo jadi lebih baik.

            Terakhir, mari bersama bersinergi membangun memperbaiki negri yang sama-sama kita cintai ini, hapus praktik korupsi, bahkan dari lingkup terkecil sekalipun seperti korupsi waktu, mari membangunkan kembali macan asia yang telah lama tertidur! Merdeka!

Tuesday, November 10, 2015

Untuk Kita Renungkan


Jum’at, 6 november 2015 adalah hari dimana aku akan berangkat menuju sebuah tempat, tempat dimana aku bisa merasakan kenyataan hidup yang kadang tidak seperti apa yang di inginkan, disanalah aku akan tinggal melakukan “live in” bersama 30 orang peserta lainya yang kuanggap keluarga sendiri menetap sementara sampai hari minggu, sementara mereka, tempat yang akan aku tumpangi itu akan menetap disana hingga seterusnya tanpa kepastian, kita semua tahu betul bahwasanya tanpa kepastian hati akan terasa tidak nyaman, akan merasa bimbang, disanalah aku akan melihat kenyataan, tempat untuk merenung, tempat untuk mensyukuri lebih dalam akan apa yang telah dianugerahkan oleh tuhan yang maha kuasa, disanalah, di kebun sayur ciracas.
Malam itu aku berangkat dengan kendaraan mewah yang sangat merakyat, sesampainya disana aku heran, heran sekali melihat bahwa tempat yang bisa dibilang kurang layak dijadikan tempat tinggal ini bersebrangan dengan rumah-rumah besar, terngiang dalam kalbuku seberapa dalam penderitaan orang –orang yang ada di kebun sayur ciracas, seberapa mereka mungkin merasa iri hati dengan apa yang dimiliki tetanganya, atau mungkin mereka ikhlas dengan hal itu semua? Inilah saatnya aku harus belajar banyak tentang kehidupan, untuk kita renungkan.
Aku bertemu dengan “mama” yang akan menjadi ibu asuhku selama beberapa hari, beliau dipanggil dengan mama ana, karena beliau memiliki putri bernama ana yang berumur kurang dari tiga tahun namun cerdasnya luar biasa, aku tinggal bersama dengan temanku Deni, singkat cerita kami tiba di kediaman mama ana, sebuah rumah semi permanen berukuran 6x6 meter mungkin, yang hanya ada dua buah lampu didalamnya. Kondisi kebun sayur ciracas saat itu dalam kondisi kekeringan, namun air tersedia di rumah mama ana, meskipun dengan rasa air yang khas itu, tapi cukup lah untuk sekedar bersih-bersih.
Sabtu pagi, 7 november 2015, aku memulai hariku dipagi hari berkumpul bersama peserta yang lainya di lapangan, sedikit briefing dan olahraga, lalu apa yang harus aku lakukan? Ingin membantu banyak tentunya, namun apalah yang bisa aku perbuat hanya menemani ana bermain, semoga itu sudah cukup menyenangkan hati keluarga mama ana. Keluarga mama ana sehari-hari berjualan es cendol, namun sayangnya hujan turun dihari itu, hingga mengurungkan niat untuk berjualan, sayang sekali, sehingga yang bisa aku lakukan ya hanya menemani ana bermain seharian penuh, berkeliling kebun sayur ciracas dengan sedikit kehujanan menggunakan payung alami yaitu daun pisang, kebahagiaan ini memang tidak seberapa, namun melihat senyum yang terukir membuatku terus bersemangat menemani ana bermain yang tiada hentinya hingga petang datang.
Malam hari aku dan peserta lainya berkumpul dan berbagi cerita tentang apa yang telah dilakukan sepanjang hari, banyak yang ikut orangtua asuhnya ke kebun, ada juga yang menyiungi bawang, dan ada aku yang menjadi baby sitter seharian. Setelah berbagi cerita, aku dan peserta lainya dibawa ke lapangan dengan mata yang tertutup oleh almamater, lalu kami didengungkan oleh orasi-orasi abang-mbak senior kami yang menyemangati darah juang ini. Malam pun berakhir, aku kembali pukul 11 malam dan menemukan semua orang dirumah sudah tertidur.
Minggu pagi, ada pengumuman mengenai pembangunan jalan, aku dan peserta laki-laki lainya turut andil membantu membangun jalan itu, jalan yang dibuat dengan swadaya, bersama-sama jalan itu pun bisa dibuat. Lalu kami, para peserta ditugaskan membuat acara untuk anak-anak di kebun sayur ciracas, tema yang kami angkat adalah nasionalisme, sehubugan juga dengan hari pahlawan yang akan diperingati dua hari lagi. Acaranya berlangsung seru dan meriah, aku, kamu, kita semua, semua orang mengukir senyuman lebar sepanjang acara ini berlangung, bahagia rasanya bisa membuat anak-anak ini tersenyum.
Hingga sampailah pada waktu disaat aku harus kembali kenyataanku sebagai mahasiswa, kembali lagi beraktivitas dengan segala tugas dan kewajiban sebagai mahasiswa, aku pun harus berpamitan kepada seluruh warga kebun sayur ciracas, khususnya juga kepada ana, mama ana dan semua keluarganya, namun ini bukanlah akhir, ini adalah awal pembuka dari perjuangan.
Selama dua hari dua malam aku tinggal di tempat yang sebenarnya kurang layak disebut sebagai tempat tinggal itu aku menemukan bahwasanya kebahagiaan itu tidak bisa ditentukan dengan materil semata, aku belajar bahwa untuk menjadi bahagia itu sebenarnya sederhana, kehidupan ini memang hanya permainan belaka, namun kita harus terus bekerja dan berjuang sampai ajal menjemput, bekerja dan berjuang untuk bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, karena menjadi manusia yang sesungguhnya adalah menjadi manusia yang berguna bagi sesamanya. Disini juga aku menyadari apakah aku masih kufur nikmat, atas apa yang telah diberikan tuhan kepadaku, nikmat bahwa aku bisa menjadi sebagian kecil anggota masyarakat yang bisa mengenyam bangku perkuliahan, oh tuhan ampunilah hambamu ini andaikata masih kurang banyak bersyukur kepadamu, sungguh aku telah banyak lalai dalam menggunakan karunia mu, berikanlah aku jalan yang terbaik dalam menempuh kehidupan ini, aku hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, untuk itu, inilah, suatu hal yang pantas untuk kita renungkan.



with Deni, mama ana, Ana, and Me!

                               
                                                                Barikara batch 3




              

Saturday, June 27, 2015

Mabit, Suka dan Duka          
Kali ini saya menulis tentang pengalaman saya di sebuah lembaga belajar, cekidot!
       Perjalananku dimulai ketika aku kembali ke tanah air, ibuku menyarankanku untuk mengikuti ujian masuk ptn atau yang lebih dikenal dengan SBMPTN, pada awalnya, taka da sedikitpun terpikirkan olehku untuk melanjutkan kuliah didalam negri, namun setelah beberapa pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk mencoba masuk ke ptn, UI khususnya, karena punya nilai tersendiri di keluargaku.
       Aku mendaftarkan diri di sebuah lembaga pendidikan Homeschooling dan bimbel tambahan, yaitu NF atau yang lebih dikenal dengan Nurul Fikri, aku mendaftarkan diri di NF Kalibata City, yang kata banyak orang sempit, padahal kalau dilihat lagi ini adalah NF terbesar karena tersedia mall dibawahnya.
        Singkat cerita, setelah beberapa bulan aku mengikuti kegiatan belajar mengajar di Indonesia yang sebenarnya agak canggung untukku, ibuku terus mengatakan padaku untuk mengikuti program Mabit NF, awalnya aku tidak tahu apa itu, kupikir hanya sebuah program mabit yang berlangsung selama satu atau dua hari saja, ternyata selang beberapa hari kemudian ada beberapa mahasiswa yang datang ke NF Kalibata City, dan tak kusangka mereka adalah para pengajar Mabit, mereka menerangkan apa itu Mabit NF dan mempromosikanya kepada aku dan teman-temanku, “ooh, jadi ini yang selama ini ibuku bilang terus-menerus” aku berkata dalam hati. Tanpa pikir panjang akupun ingin mendaftar pada program tersebut, lalu kubaca pamphlet yang berisi informasi mengenai Mabit NF, dan kubaca, ooh ternyata ini program berbeda dari yang aku bayangkan.
       Dari pamphlet yang telah kubaca, ternyata Mabit NF ini berlokasi di NF Mampang, NF ketika aku SD dulu. Mabit ini cara mendaftarnya via online, canggih juga, pikirku, tak lama kemudian pendaftaran ditutup, akupun di infokan untuk mengikuti  placement test namun sayangnya aku tidak sempat untuk mengikutinya, akhirnya aku pasrah saja, tidak tahu akan berakhir dikelas yang mana.
       Sabtu itu, adalah hari pertama aku hadir Mabit, tak kusangka, begitu banyaknya anak NF yang mengikuti program ini, ada lebih dari seratus orang yang hadir saat itu kurasa. Hari pertama diawali dengan pembukaan Mabit, diisi dengan berbagai macam kegiatan, dari caranya mengadakan kegiatan, bisa kutebak ini program yang islami, yah dari namanya pun bisa ditebak. Aku berpikir, inilah saatnya, inilah tempatnya, dimana aku harus sungguh sungguh belajar dan banyak berdoa, aku pasti bisa, dimulai dari sini, insyalllah!.
      Esoknya adalah hari pertama aku masuk kelas, dan aku mendapat kelas B atau Rombeng, nama yang cukup aneh bukan?. Di Mabit sendiri terdiri dari lima rombongan atau kelas, dua rombongan IPS yaitu Aroma dan Rombeng, dan tiga rombongan IPA yaitu Ronceng, Roneng dan Rondeng. Dan yang unik lagi adalah waktu belajar Mabit, waktu belajar Mabit adalah hari Sabtu dan Minggu, Pukul 19.00 – 21.00, malam, ya malam! Entah mengapa ada belajar di suatu tempat les pada malam hari, mungkin sesuai dengan namanya, Mabit NF. Akhirnya perjalanan dimulai….
        Hari pertama kulewati, tersentak aku melihat begitu ramainya orang yang ada dikelasku, aku memulai hari pertama dan bulan pertama dengan belajar linguistic. Sistem belajar di Mabit yaitu dengan mempejari satu mata pelajaran dalam satu bulan atau satu departemen per rombongan . Mulailah aku belajar, ternyata pengajar Mabit itu rata-rata adalah mahasiswa, dan lebih hebatnya lagi mereka adalah alumni dari Mabit itu sendiri, artinya ketika aku lulus dan mendapatkan ptn kelak, aku akan menjadi pengajar layaknya para pengajar saat ini, keren….
       departemen linguistic adalah departemen yang paling kusuka, karena memang kecenderunganku terdapat di linguistik, oh ya, di Mabit juga ada program kakak asuh, yaitu belajar dalam kelompok kecil beranggotakan lima sampai tujuh orang lalu belajar dengan kakak pengajar diluar jam formal Mabit. Di akhir bulan linguistik adalah waktu yang ditunggu-tunggu, ujian akhir departemen salah satunya adalah afektif. Apa itu afektif? Afektif adalah kegiatan dimana para Mabiters (sebutan dari murid Mabit NF) menerangkan kembali apa yang telah diajarkan kepada kakak pengajar. Lalu ada juga ujian diagnostik, ya bisa dibilang sebagai ujian tertulisnya, semua ujian tersebut diadakan pada hari sabtu, lalu pada hari minggunya diadakan catatan akhir departemen, kali ini catatan akhir diadakan di museum Satria Mandala, museum ini sendiri adalah museum sejarah tentara dan alat perang Indonesia. Nah, apa saja aktivitas yang aku lakukan di museum? Saat itu banyak mabiters yang mengikuti kegiatan ini, jadi para mabiters saat itu dibagi ke beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari beberapa orang. Kami melakukan berbagai games, mengerjakan soal, membuat yel-yel dan lain sebagainya, memang melelahkan, namun memuaskan.
         Masuklah aku ke departemen kedua, yaitu departemen sejarah, ini juga departemen yang cukup aku sukai Karena aku menyukai sejarah, hari demi hari kulewati dengan sungguh sungguh, dan tiba juga pada hari catatan akhir departemen, kali ini cukup menyedihkan, karena ada suatu hukum alam yang membuat mabiters seolah olah terseleksi kembali, banyak dari mabiters yang berguguran, menyatakan tidak sanggup dan sebagainya, padahal apa yang harus ditidaksanggupi, semuanya terasa enak jika dinikmati. Sedihnya, saat itu hanya ada tiga orang dari rombonganku, sungguh terlalu, rasa kecewa sebenarnya, namun semangat tetap harus terjaga. Pada catatan akhir departemen kali ini diadakan di UI, sang kampus impian, kegiatan ini diadakan dengan berbagai games yang aneh-aneh, seru.
Departemen ketiga, ekonomi. Ekonomi adalah pelajaran yang cukup menarik, namun tidak mudah, ku akui ini adalah tantangan besar bagiku yang tidak pernah belajar ekonomi, namun aku tetap semangat, tidak ada yang tidak mungkin selama aku mau berusaha dan niat yang baik.seiring dengan berjalanya waktu, aku mulai cemas, makin banyak mabiters yang berguguran, di departemen ekonomi, terasa sekali penyusutan jumlah mabiters di rombonganku, mungkin memang karena saat itu waktu liburan semester, bisa jadi mabiters masih ingin jalan-jalan, akibatnya, kelas sepi, kelas wajib menjadi seperti kakak asuh dan kakak asuhnya sendiri tidak berjalan dengan baik, aku sampaikan secara pribadi permintaan maafku sebesar besarnya kepada kakak pengajar ekonomi, yang mungkin telah kecewa dengan jumlah mabiters di rombonganku, menyedihkan, namun begitulah faktanya kak, apalah daya diriku sendiri ini. Hingga pada akhir departemen, diadakan catatan akhir depatemen yang berlokasi di taman Menteng, aku hanya seorang diri yang mewakili rombonganku, sedih sekali rasanya, dan heran juga, kok bisa aku berada disini sendiri, padahal dulu betapa ramainya kelasku, sedih, tapi tetap harus bersemangat.
     Terselip lalu diantara kesibukan mabiters belajar, mabiters mengadakan suatu kegiatan, Mabes atau yang biasa disebut dengan makan besar, “yeaaahhh akhirnya acara makan makan” pikirku, lalu diadakan lah rapat untuk kegiatan ini. Rapat pertama kali diadakan dirumahku, awalnya aku mengira hanya akan ada sekitar 15-an orang saja, namun tak disangka-sangka yang datang melebihi 30 orang, bayangkan betapa penuhnya rumahku saat itu dan betapa aku bingungnya menghidangkan makanan atau cemilan yang aku sediakan itu kurang,tapi okelah, aku senang, semua senang, setidaknya aku tahu bahwa eksistensi mabiters itu masih ada dan masih terasa. Dengan kondisi keungan yang tidak baik, budget  yang rendah membuat kami mabiters memutar otak, akhirnya kami berusaha keras mencari dana hingga dana mencukupi untuk mengadakan Mabes, akhirnya hari yang ditunggu tunggu tiba, ini adalah kali pertama Mabes diadakan di sebuah gedung, yaitu bertempat di aula komplek DPR-RI, dengan acara yang sedikit wah, ternyata setelah dihitung kembali, dana yang tersedia ternyata masih tersisa lumayan banyak untuk membuat acara lagi kedepanya, Alhamdulillah, acara berjalan lancer, aku senang, kamu senang, kita semua senang dan kenyang.
      Masuklah aku di semester kedua di tahun yang baru, 2015, kali ini Mabit NF membuka kembali pendaftaran, lumayan banyak gelombang kedua, aku bertemu dengan wajah-wajah baru yang ramah dan menyenangkan, ya ada yang aneh juga sih sedikit, tapi okelah.
       Yak kembali belajar lagi setelah kenyang, kali ini adalah departemen terpanasss, departemen MATEMATIKA, kenapa terpanas? Bagiku pribadi ini adalah mata pelajaran terberat, selalu menjadi ganjalan dari tahun ketahun, apalagi setela hampir dua tahun aku tidak bertemu, namun dipertemukan kembali dengan matematika, tapi aku harus tetap mencoba sebisaku, di departemen ini, rasanya seperti makan telor basi pake cuka satu liter, ga enak, tapi ini yang tidak enak adalah pelajaranya, bukan pengajarnya apalagi mabitersnya. Pada akhirnya aku mencoba, hasilnya, wallahualam, dan di departemen ini tidak diadakan catatan akhir departemen.
       Memasuki departemen kedua di semester kedua, departemen geografi, bagiku, geografi adalah hal yang sedikit asing, layaknya ekonomi, ekonomi sedikit lebih asing, namun lebih menyenangkan ketimbang geografi, menurutku. Di departemen ini gejala seleksi alam mulai terjadi lagi, penyusutan mabiters, membuatku merasa sedih, tapi kata semangar selalu menjadi alasan aku untuk berjuang dan bertahan sampai dimana aku tak bisa lagi bertahan. Yaa dan di departemen ini juga tidak ada catatan akhir departemen.
            Sampailah pada departemen terakhir, departemen sosiologi dan tpa, di departemen ini jumlah mabiters semakin miris, tapi semangat belajar tetap ada. Di penghujung departemen, diadakan catatan akhir departemen Mabit, artinya ini adalah catatan akhir yang terakhir dan menjadi yang terbanyak pesertanya, kali ini diadakan di UI, dengan digabungkan IPA dan IPS, cukup seru dan menyenangkan, tidak lupa edukatif, aku senang bisa menjadi bagian dari Mabit NF. Alhamdulillah.
        Ohya, di Mabit terdapat sku atau skill upgrade , program ini adalah program unggulan Mabit, program ini di isi sendiri oleh pendiri Mabit NF, kak Dion, inti dari acara ini adalah untuk memotivasi terus semangat mabiters, aku bersyukur dapat terus termotivasi oleh kak Dion.
        Setelah menjalani Mabit NF dalam beberapa bulan, akhirnya aku memasuki babak baru, yaitu intensif Mabit, disini aku diharuskan untuk belajar lebih banyak, bersabar lebih banyak, berdoa lebih banyak dan semangat yang semakin menebal. Aku penasaran akan intensif, apa yang akan terjadi kedepanya di program intesif, dimulai dari tentir, evening report sampai segala hal yang harus kulakukan sehingga mengharuskanku datang ke NF Mampang hampir setiap hari, tak apa, ini adalah bagian dari perjuangan yang semoga setara dengan hasilnya kelak.
          Di dalam intensif ini, ada suatu program khusus, yaitu stase, didalam program ini, mabiters diharuskan untuk menetap di suatu kost, kebetulan saat itu mabiters ganteng ditempatkan di cibubur. Di hari-h, berangkatlah aku dan mabiters ganteng menuju lokasi, setibanya disana, aku sedikit terkejut dengan kondisi kostnya, aku sudah memrediksi bahwa kondisinya akan seperti ini, namun ternyata lebih parah daripada yang aku duga, bahkan sampai lampu pun tidak disediakan. Mabiters ganteng yang saat itu terdiri dari delapan orang, mabiters tinggal di kost yang besarnya tidak lebih dari kelas di NF Mampang, bisa dibayangkan betapa sempitnya, dan juga pengap didalamya. IPA mendominasi kebanyakan dari Mabiters ganteng, sedangkan mabiters ipsnya hanya ada aku dan seorang mabiters lagi. Oke, ini menjadi suatu tantangan, dimana aku adalah kelompok minoritas, kegiatan ini dimulai pada hari selasa, setelah try out di NF selesai, dan berakhir dihari Jum’at. Mabiters ganteng dipindahkan les NFnya ke NF Cibubur, aku bertemu dengan banyak orang baru disana, suasana yang begitu ramai, jauh berbeda dengan kondisi NFku di Kalibata City, yang sepi, kecil, namun luas. Jujur stase ini sebenarnya kurang efektif, karena belajarku dirumah lebih banyak dan lebih nyaman, ini juga disebabkan karena kakak mabitnya sendiri jarang datang ke kostan mabiters untuk membantu belajar, apalagi kebanyakan dari kakak mabiters yang datang adalah kakak kakak IPA, yang ketika belajar aku kurang paham apa yang mereka bicarakan, akhirnya, setelah stase pertama selesai, diadakan lagi stase kedua di minggu depanya, namun karena ada beberapa hal yang membuatku berhalangan mengikuti stase kedua ini.
         Kini sampailah aku pada ujung Mabit, ada satu lagi program yang ditunggu-tunggu, Mabit Race, ini adalah program yang sangat dinanti, baik oleh mabiters maupun kakak mabiters, karena dalam program ini, mabiters ditantang untuk berkeliling Jakarta dengan budget yang sangat menyedihkan, kala itu kami dibekali hanya dengan 75 ribu rupiah, plus patungan dari masing masing sebesar 15 ribu, acara ini dimulai pada malam minggu untuk mabiters ganteg, dan mabiters cantik berkumpul esok paginya. Pagi hari di hari minggu itu, kami semua berkumpul di NF Mampang, dengan tampang tampang sumringah penasaran, kami pun berangkat, kami dibagi menjadi empat kelompok, 2 kelompok ganteng, 2 kelompok cantik. Bismillahirrahmanirrahim, berangkatlah kami menuju tujuan awal, aku dan kelompoku sedikit apes, kami berangkat yang terakhir, mendapat clue yang aneh, yaitu “welcome” setelah berpikir panjang, ternyata itu adalah bunderan HI, cukup jauh. Kami memulai perjalanan dengan menumpang bus Transjakarta menuju Bunderan HI, sesampainya disana, kami bertemu dengan kakak mabit, mereka memakai baju yang seragam, baju berwana abu-abu. Disana, kami ditugaskan untuk mencari limapuluh tanda tangan, lalu mengerjakan soal yang isinya pelajaran IPA semua, kebetulan di kelompok ada yang anak IPA, Alhamdulillah, selesai mengerjakan soal, kami mendapatkan clue yang kedua, clue tersebut terdapan didalam tts, setelah kata-kata tersusun, ditemukanlah kata Sunda Kelapa, awalnya kami mengira itu adalah daerah di kawasan Jakarta Utara, namun setelah dipikir kembali, ternyata itu adalah Masjid Sunda Kelapa yang jaraknya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kami pun segera bergegas menuju Masjid Sunda Kelapa. Setibanya di Masjid Sunda Kelapa, kami mendapat tugas untuk menunaikan shalat dhuha, kebetulan saat itu Masjid sedang ramai karena ada orang yang menikah. Setelah selesai shalat dhuha, kami diminta oleh kakak pengajar untuk menyanyikan sebuah nasyid, kami memutuskan untuk bernyanyi lagu ”insyaallah” karya Maher Zain, setelah bernyanyi, diadakan sebuah games, di games ini kami melawan kelompok mabiters ganteng lainya, games ini berisi pertanyaan seputar keislaman, sayangnya kami kalah, tak apa. Berakhir semua games dan tugas di Masjid Sunda Kelapa, kami mendapat clue untuk pergi ke Jatinegara, dana diberi nomer seorang kakak mabit, disinilah…. Semua terjadi.
       Jatinegara? Dimananya Jatinegara? Karena Jatinegara itu sangat luas, pada akhirnya kelompok kami memutuskan untuk berkoalisi dengan keompok ganteng lainya, jadiah koalisi ganteng. Di perjalanan aku sibuk menelfon kakak mabit untuk mencari tahu dimanakah posisi kakak mabit berada, awalnya kami diberi tahu bahwa mereka berada di Masjid At-tijarah, apa itu Masjid At-tijarah? Dimana itu? Kami tidak tahu, yang pasti itu berada di Jatinegara. Akhirnya koalisi ganteng turun di Jatinegara, langsung saja kami bertanya dimana Masjid At-tijarah itu berada, satu dua orang kami tanya tak satu pun yang mengetahui dimana Masjid tersebut, yang mereka tahu hanya ada dua Masjid disekitar sana, akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi kedua Masjid tersebut, sesampainya, kami mendapati bahwa kedua masjid tersebut bukanlah Masjid At-tijaarah, kami bingung, aku menelfon lagi, berulang-ulang, lalu kakaknya berkata bahwa mereka berada di JTC atau Jatinegara Trade Centre, masjidnya berada didalam tempat tersebut. Oke lokasi baru, kami mulai bertanya tanya kembali, namun tetap sedikit orang yang mengetahuikeberadaan tempat itu, aneh rasanya, mengapa tak ada seorangpun yang tahu dimana JTC itu, kami mulai penasaran, semua orang kami tanyai, lalu ada yang berkata bahwa JTC berada didepan PGJ atau Pusat Grosir Jatinegara. Kami pun bergegas menuju PGJ, ditengah jalan kami bertemu dengan tukang es yang rasanya super enak, melebihi es manapun, mungkin melebihi Haagen-dazs, ah tapi lebih enak Haagen-dazs, namun harganya sangat murah, hanya dengan duaribu rupiah, bisa mendapat sebatang es dibalut dengan coklat, ini seumpama es walls m*gnum yang harganya jauh berkali-kali lipat lebih murah. Sesampainya kami di PGJ, kami lelah, bingung, pusing, bĂȘte, dan semua hal yang tidak enak, aku bertanya kepada satpam setempat dimana lokasi JTC itu, ternyata oh ternyata JTC betul betul ada didepan PGJ, dan ternyata lagi, JTC adalah pasar Jatinegara, bro, Jatinegara Trade Centre itu nama yang terlalu keren untuk sebuah pasar, mengapa tidak sebut saja pasar Jatinegara? Aku yakin semua orang tahu dimana pasar itu. Kelelahan namun tetap semangat, kami bergegas menuju JTC, sesapainya, kami bertanya dimana Masjid At-tijaarah berada, ya, Masjid ini berada di lantai paling atas gedung JTC. Siapa gerangan yang bakal tahu dimana Masjid ini, pikirku, ah sudahlah yang penting cepat tiba. Setibanya disana, kami langsung bergegas untuk shalat dzuhur, setelah shalat dzuhur, kami mendapat tugas untuk membeli kolang-kaling dan meminta tiga orang untuk mematikan rokoknya, dan harus dibuat video. Gila, pikirku, bisa bisa habis kita dihajar masa. Tapi tetap kami mencoba untuk mengerjakan tugas yang nyeleneh ini, dan pada akhirnya dapat juga. Fiuuh… benar benar memang.
     Selesai mengerjakan kedua tugas itu, tak ketinggalan juga ada tugas mengerjakan soal, kali ini ada soal IPSnya, boleh juga. Selesai dari Jatinegara, kami mendapatkan clue menuju Taman Langsat, sebuah taman berlokasi di Blok M, sangat jauh. Dengan budget yang semakin menipis, kamipun menunda waktu makan kami, lelah lapar harus kami lupakan sesaat, masih ada tugas yang akan menanti. Kami menumpang bus Transjakarta untuk menuju Taman Langsat, dan bisa ditebak betapa penuhnya Transjakarta yang kami tumpangi. Sesampainya kami di Taman Langsat, kami bisa sedikit beristirahat dan shalat ashar, lalu tugas di tempat ini adalah membacakan puisi bertemakan SBMPTN, tanpa pikir panjang dan buang waktu, aku langung maju dan mewakili kelompoku dan mengutarakan isi hatiku mengenai SBMPTN, kelompoku menjadi kelompok yang pertama menyelesaikan tugas di lokasi ini, namun karena komitmen koalisi ganteng, kami menunggu kelompok koalisi ganteng lainya. Melanjutkan ke lokasi terakhir, berlokasi di Pasaraya Blok M, ini mengharuskan kami  untuk berjalan kembali ke halte tempat kami turun sebelumnya. Sesampainya kami di Pasaraya, kami dibuat pusing oleh kakak mabit, tak habis pikir apa yang akan aku lakukan disana, untuk makan pun kami tak ada uang, mau melakukan apa disini? Lalu kami dilempar kesana kesini, mencari kakak pj di Pasaraya, yang bahkan kami tidak tahu siapa dia, laki laki atau perempuan, kami bingung, kami hilang arah. Jujur ini adalah lokasi akhir yang sebenarnya aku sangat tidak nyaman disini, satu hal yang membuatku sedikit nyaman adalah masjidnya yang bagus, bisa dibilang sangat bagus mungkin. Sampai di lokasi terakhir ini, kami masih mendapat tugas, yaitu mewawancarai tiga orang asing disini, namun karena kami sudah lelah dan pusing, akhirnya kami tidak mau melakukan hal ini. This is getting more ridiculous. Oke, akhirnya kami diberi uang tambahan sebesar 25 ribu untuk beli makan, tapi apa kiranya yang bisa dibeli dengan 25 ribu untuk sekelompok di dalam sebuah mall? Akhirnya kami memutuskan untuk membeli minum. Selesai sudah semua rangkaian acara Mabit Race, kami berkumpul didepan  Pasaraya, disini koalisi ganteng hancur karena dibuat tantangan akhir, semacam death race katanya, siapa yang pertama sampai mampang, menang, kami bersemangat, walau aku pribadi agak kurang setuju, yang aku ingin kita menang bersama, sampai bersama sama, apa gunanya menang jika tidak semuanya bahagia? Tapi begitulah keputusanya. Kelompoku menumpak taksi kali ini, kami rasa ini adalah sarana umum yang tercepat dan ternyaman, kebetulan kondisi keuangan masih mendukung, penghematan akhirnya ada hasilnya. Sesampainya di mampang, kami pikir kami adalah kelompok yang pertama sampai di Mampang, namun dua kelompok Mabiters cantik tiba terlebih dahulu dibanding kami, dan yang lebih mengejutkan ada kelomok yang menumpang taksi lebih dari tujuh orang, wow. Akhrinya, kami lelah, namun cukup puas, setelah acara selesai dan aku pulang, aku langsung menuju restoran terdekan untuk memenuhi kelaparan ku yang dari tadi siang sudah meraung, ya semacam balas dendam.
       Akhirnya sampailah aku di penghujung mabit, semua suka duka telah aku lewati, bersama seluruh keluarga Mabit NF, aku yakin aku tidak akan bisa menghadapi semua ini jika aku berjalan sendirian, namun disini aku berjalan bersama, bersama itu lebih kuat, lebih bermakna, dan lebih indah, karena sesungguhnya banyak hikmah dibalik kebersamaan ini, tawa, canda, sedih dan tangis terlewati seakan baru kemarin terjadi, mereka yang tadinya tak kukenal, kini dengan yakin bisa kusebut mereka adalah keluargaku, bagian dari serpihan cerita hidupku yang kuharap makin bermakna kedepanya, mereka adalah Mabiters beserta kakak Mabit. Kusampaikan doa terbaiku dalam tulisan ini untuk kita semua, Mabiters dari awal hingga akhir nanti, semoga sukses selalu, sukses yang di ridhai Allah, sukses dunia akhirat. Dan juga aku meminta doa dari semua yang membaca tulisan ini, berkenan maafnya jikalau ada kata kata yang kurang enak dibaca, begitu banyak luapan emosi yang tertuliskan dalam tulisan singkat ini. Sekian, doakan kami dalam perjuangan SBMPTN ini yang tinggal menghitung hari.

 Mabiters 2015




Setelah dua tahun lamanya.

Assalamualaikum and hello everyone!

Tidak terasa sudah hampir dua tahun saya tidak menulis, ya mungkin sebelumnya juga tidak banyak tulsan yang saya buat, namun kali ini saya akan mencoba untuk banyak menulis kembali, menuangkan apa yang sudah lama tersimpan di dalam draft.

setelah 2 tahun


Waktu berlalu dan kini sudah memasuki pertengahan tahun 2015, sekarang saya sudah lulus SMA dan menunggu pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negri atau yang biasa disebut dengan ptn, sudah hampir setahun saya meninggalkan bumi Syam, Jordan.. ada rindu rasanya dengan keseharian saya disana, rindu pula dengan semua kegilaanya dan semua hal itu ternyata membuat saya ingin bertemu setidaknya dengan semua kawan-kawan seperjuangan di Jordan sana, banyak hal yang telah terjadi.

23 Juli 2014, itu adalah hari dimana kepulangan saya menuju Indonesia, semoga bukan teakhir kalinya saya kesana, kala itu Ramadhan sudah mendekati lebaran, tak sabar rasanya ingin bertemu sanak keluarga, namun juga ada rasa tak ingin meninggalkan kawan-kawan saya di Jordan, namun inilah waktunya bagi saya untuk kembali, entah akan kembali atau tidak, hanya berupaya menjalani takdir.

Indonesia, 24 Juli 2014, tibalah saya di tanah air, senang rasanya melihat senyum lebar dari semua sanak keluarga saya, khususnya dari kedua orangtua, entah apakah mereka bangga terhadap saya atau tidak, namun senyum mereka mengatakan semua hal tanpa perlu sebuah kata pun.

Kembali lagi ke rutinitas ala Indonesia, kali ini saya menjadi murid di sebuah lembaga sekolah, HS Berkemas. HS atau yang lebih dikenal dengan Homeschooling, saya langusng masuk ke kelas 3 SMA, yang artinya saya hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan ujian nasional, menantang.

to be continued... 

Thursday, January 17, 2013

winter 2013, Amman


bismillahirahmanirrahim

Tahun ini adaah tahun spesial buat saya, ini adalah pertama kalinya saya merasakan manis pahitnya musim dingin, dari mulai harus memakai baju berlapis lapis, tubuh tidak boleh lapar, sampai harus selalu sedia penghangat ruangan. Memang itu semua menjadi lebih rumit lagi bagi saya yang baru pertama kali merasakan dinginnya musim dingin, tetapi di balik semua itu pasti ada hikmahnya.

Setelah semua rintangan yang saya hadapi, akhirnya yang saya tunggu tunggu tiba., salju. ternyata salju itu seperti es yang ada di tukang tukang es serut, tapi jauuh lebih lembut lagi di banding es serut.
Dan alhamdulillah sekali pada tahun ini saya beruntung, karena tidak setiap tahun di Jordan ini saljunya tebal, tapi pada tahun ini, saya bisa merasakan tebalnya salju, yang kurang lebih tebalnya sampai ke lutut.


some memories from winter..


pohon yang ada saljunya



ini di sebelah rumah nih

di atas bukit udah segini









boneka salju




bersama mahasiswa dan pelajar Indonesia di Jordan


inilah pengalaman saya di Jordan, semoga berlanjut dengan pengalaman manis maupun pahit yang kan datang.




assalamualaikum, ini adalah tulisan pertama saya di blog ini, semoga kedepannya blog ini akan terus memposting hal hal yang penting, aneh atau yang lain lain... wassalam!