Mabit,
Suka dan Duka
Kali ini saya menulis tentang pengalaman saya di sebuah lembaga belajar, cekidot!
Perjalananku dimulai ketika aku kembali
ke tanah air, ibuku menyarankanku untuk mengikuti ujian masuk ptn atau yang
lebih dikenal dengan SBMPTN, pada awalnya, taka da sedikitpun terpikirkan
olehku untuk melanjutkan kuliah didalam negri, namun setelah beberapa
pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk mencoba masuk ke ptn, UI khususnya,
karena punya nilai tersendiri di keluargaku.
Aku mendaftarkan diri di sebuah lembaga
pendidikan Homeschooling dan bimbel
tambahan, yaitu NF atau yang lebih dikenal dengan Nurul Fikri, aku mendaftarkan
diri di NF Kalibata City, yang kata banyak orang sempit, padahal kalau dilihat
lagi ini adalah NF terbesar karena tersedia mall dibawahnya.
Singkat cerita, setelah beberapa bulan
aku mengikuti kegiatan belajar mengajar di Indonesia yang sebenarnya agak
canggung untukku, ibuku terus mengatakan padaku untuk mengikuti program Mabit
NF, awalnya aku tidak tahu apa itu, kupikir hanya sebuah program mabit yang
berlangsung selama satu atau dua hari saja, ternyata selang beberapa hari
kemudian ada beberapa mahasiswa yang datang ke NF Kalibata City, dan tak
kusangka mereka adalah para pengajar Mabit, mereka menerangkan apa itu Mabit NF
dan mempromosikanya kepada aku dan teman-temanku, “ooh, jadi ini yang selama
ini ibuku bilang terus-menerus” aku berkata dalam hati. Tanpa pikir panjang
akupun ingin mendaftar pada program tersebut, lalu kubaca pamphlet yang berisi
informasi mengenai Mabit NF, dan kubaca, ooh ternyata ini program berbeda dari
yang aku bayangkan.
Dari pamphlet yang telah kubaca,
ternyata Mabit NF ini berlokasi di NF Mampang, NF ketika aku SD dulu. Mabit ini
cara mendaftarnya via online, canggih juga, pikirku, tak lama kemudian
pendaftaran ditutup, akupun di infokan untuk mengikuti placement test namun
sayangnya aku tidak sempat untuk mengikutinya, akhirnya aku pasrah saja, tidak
tahu akan berakhir dikelas yang mana.
Sabtu itu, adalah hari pertama aku hadir
Mabit, tak kusangka, begitu banyaknya anak NF yang mengikuti program ini, ada
lebih dari seratus orang yang hadir saat itu kurasa. Hari pertama diawali
dengan pembukaan Mabit, diisi dengan berbagai macam kegiatan, dari caranya
mengadakan kegiatan, bisa kutebak ini program yang islami, yah dari namanya pun
bisa ditebak. Aku berpikir, inilah saatnya, inilah tempatnya, dimana aku harus
sungguh sungguh belajar dan banyak berdoa, aku pasti bisa, dimulai dari sini,
insyalllah!.
Esoknya adalah hari pertama aku masuk
kelas, dan aku mendapat kelas B atau Rombeng, nama yang cukup aneh bukan?. Di
Mabit sendiri terdiri dari lima rombongan atau kelas, dua rombongan IPS yaitu
Aroma dan Rombeng, dan tiga rombongan IPA yaitu Ronceng, Roneng dan Rondeng.
Dan yang unik lagi adalah waktu belajar Mabit, waktu belajar Mabit adalah hari
Sabtu dan Minggu, Pukul 19.00 – 21.00, malam, ya malam! Entah mengapa ada
belajar di suatu tempat les pada malam hari, mungkin sesuai dengan namanya,
Mabit NF. Akhirnya perjalanan dimulai….
Hari pertama kulewati, tersentak aku
melihat begitu ramainya orang yang ada dikelasku, aku memulai hari pertama dan
bulan pertama dengan belajar linguistic. Sistem belajar di Mabit yaitu dengan
mempejari satu mata pelajaran dalam satu bulan atau satu departemen per
rombongan . Mulailah aku belajar, ternyata pengajar Mabit itu rata-rata adalah
mahasiswa, dan lebih hebatnya lagi mereka adalah alumni dari Mabit itu sendiri,
artinya ketika aku lulus dan mendapatkan ptn kelak, aku akan menjadi pengajar
layaknya para pengajar saat ini, keren….
departemen linguistic adalah departemen
yang paling kusuka, karena memang kecenderunganku terdapat di linguistik, oh
ya, di Mabit juga ada program kakak asuh, yaitu belajar dalam kelompok kecil
beranggotakan lima sampai tujuh orang lalu belajar dengan kakak pengajar diluar
jam formal Mabit. Di akhir bulan linguistik adalah waktu yang ditunggu-tunggu,
ujian akhir departemen salah satunya adalah afektif. Apa itu afektif? Afektif
adalah kegiatan dimana para Mabiters (sebutan dari murid Mabit NF) menerangkan
kembali apa yang telah diajarkan kepada kakak pengajar. Lalu ada juga ujian
diagnostik, ya bisa dibilang sebagai ujian tertulisnya, semua ujian tersebut
diadakan pada hari sabtu, lalu pada hari minggunya diadakan catatan akhir
departemen, kali ini catatan akhir diadakan di museum Satria Mandala, museum
ini sendiri adalah museum sejarah tentara dan alat perang Indonesia. Nah, apa
saja aktivitas yang aku lakukan di museum? Saat itu banyak mabiters yang
mengikuti kegiatan ini, jadi para mabiters saat itu dibagi ke beberapa
kelompok, satu kelompok terdiri dari beberapa orang. Kami melakukan berbagai
games, mengerjakan soal, membuat yel-yel dan lain sebagainya, memang
melelahkan, namun memuaskan.
Masuklah aku ke departemen kedua,
yaitu departemen sejarah, ini juga departemen yang cukup aku sukai Karena aku
menyukai sejarah, hari demi hari kulewati dengan sungguh sungguh, dan tiba juga
pada hari catatan akhir departemen, kali ini cukup menyedihkan, karena ada
suatu hukum alam yang membuat mabiters seolah olah terseleksi kembali, banyak
dari mabiters yang berguguran, menyatakan tidak sanggup dan sebagainya, padahal
apa yang harus ditidaksanggupi, semuanya terasa enak jika dinikmati. Sedihnya,
saat itu hanya ada tiga orang dari rombonganku, sungguh terlalu, rasa kecewa
sebenarnya, namun semangat tetap harus terjaga. Pada catatan akhir departemen
kali ini diadakan di UI, sang kampus impian, kegiatan ini diadakan dengan
berbagai games yang aneh-aneh, seru.
Departemen ketiga,
ekonomi. Ekonomi adalah pelajaran yang cukup menarik, namun tidak mudah, ku
akui ini adalah tantangan besar bagiku yang tidak pernah belajar ekonomi, namun
aku tetap semangat, tidak ada yang tidak mungkin selama aku mau berusaha dan
niat yang baik.seiring dengan berjalanya waktu, aku mulai cemas, makin banyak
mabiters yang berguguran, di departemen ekonomi, terasa sekali penyusutan
jumlah mabiters di rombonganku, mungkin memang karena saat itu waktu liburan
semester, bisa jadi mabiters masih ingin jalan-jalan, akibatnya, kelas sepi,
kelas wajib menjadi seperti kakak asuh dan kakak asuhnya sendiri tidak berjalan
dengan baik, aku sampaikan secara pribadi permintaan maafku sebesar besarnya
kepada kakak pengajar ekonomi, yang mungkin telah kecewa dengan jumlah mabiters
di rombonganku, menyedihkan, namun begitulah faktanya kak, apalah daya diriku
sendiri ini. Hingga pada akhir departemen, diadakan catatan akhir depatemen
yang berlokasi di taman Menteng, aku hanya seorang diri yang mewakili
rombonganku, sedih sekali rasanya, dan heran juga, kok bisa aku berada disini
sendiri, padahal dulu betapa ramainya kelasku, sedih, tapi tetap harus
bersemangat.
Terselip lalu diantara kesibukan mabiters
belajar, mabiters mengadakan suatu kegiatan, Mabes atau yang biasa disebut
dengan makan besar, “yeaaahhh akhirnya acara makan makan” pikirku, lalu
diadakan lah rapat untuk kegiatan ini. Rapat pertama kali diadakan dirumahku,
awalnya aku mengira hanya akan ada sekitar 15-an orang saja, namun tak
disangka-sangka yang datang melebihi 30 orang, bayangkan betapa penuhnya
rumahku saat itu dan betapa aku bingungnya menghidangkan makanan atau cemilan
yang aku sediakan itu kurang,tapi okelah, aku senang, semua senang, setidaknya
aku tahu bahwa eksistensi mabiters itu masih ada dan masih terasa. Dengan
kondisi keungan yang tidak baik, budget
yang rendah membuat kami mabiters
memutar otak, akhirnya kami berusaha keras mencari dana hingga dana mencukupi
untuk mengadakan Mabes, akhirnya hari yang ditunggu tunggu tiba, ini adalah
kali pertama Mabes diadakan di sebuah gedung, yaitu bertempat di aula komplek
DPR-RI, dengan acara yang sedikit wah,
ternyata setelah dihitung kembali, dana yang tersedia ternyata masih tersisa
lumayan banyak untuk membuat acara lagi kedepanya, Alhamdulillah, acara
berjalan lancer, aku senang, kamu senang, kita semua senang dan kenyang.
Masuklah aku di semester kedua di tahun
yang baru, 2015, kali ini Mabit NF membuka kembali pendaftaran, lumayan banyak
gelombang kedua, aku bertemu dengan wajah-wajah baru yang ramah dan
menyenangkan, ya ada yang aneh juga sih sedikit, tapi okelah.
Yak kembali belajar lagi setelah
kenyang, kali ini adalah departemen terpanasss, departemen MATEMATIKA, kenapa
terpanas? Bagiku pribadi ini adalah mata pelajaran terberat, selalu menjadi
ganjalan dari tahun ketahun, apalagi setela hampir dua tahun aku tidak bertemu,
namun dipertemukan kembali dengan matematika, tapi aku harus tetap mencoba
sebisaku, di departemen ini, rasanya seperti makan telor basi pake cuka satu
liter, ga enak, tapi ini yang tidak enak adalah pelajaranya, bukan pengajarnya
apalagi mabitersnya. Pada akhirnya aku mencoba, hasilnya, wallahualam, dan di
departemen ini tidak diadakan catatan akhir departemen.
Memasuki departemen kedua di semester
kedua, departemen geografi, bagiku, geografi adalah hal yang sedikit asing,
layaknya ekonomi, ekonomi sedikit lebih asing, namun lebih menyenangkan
ketimbang geografi, menurutku. Di departemen ini gejala seleksi alam mulai
terjadi lagi, penyusutan mabiters, membuatku merasa sedih, tapi kata semangar
selalu menjadi alasan aku untuk berjuang dan bertahan sampai dimana aku tak
bisa lagi bertahan. Yaa dan di departemen ini juga tidak ada catatan akhir
departemen.
Sampailah pada departemen terakhir,
departemen sosiologi dan tpa, di departemen ini jumlah mabiters semakin miris,
tapi semangat belajar tetap ada. Di penghujung departemen, diadakan catatan
akhir departemen Mabit, artinya ini adalah catatan akhir yang terakhir dan
menjadi yang terbanyak pesertanya, kali ini diadakan di UI, dengan digabungkan
IPA dan IPS, cukup seru dan menyenangkan, tidak lupa edukatif, aku senang bisa
menjadi bagian dari Mabit NF. Alhamdulillah.
Ohya, di Mabit terdapat sku atau skill upgrade , program ini
adalah program unggulan Mabit, program ini di isi sendiri oleh pendiri Mabit
NF, kak Dion, inti dari acara ini adalah untuk memotivasi terus semangat
mabiters, aku bersyukur dapat terus termotivasi oleh kak Dion.
Setelah menjalani Mabit NF dalam
beberapa bulan, akhirnya aku memasuki babak baru, yaitu intensif Mabit, disini
aku diharuskan untuk belajar lebih banyak, bersabar lebih banyak, berdoa lebih
banyak dan semangat yang semakin menebal. Aku penasaran akan intensif, apa yang
akan terjadi kedepanya di program intesif, dimulai dari tentir, evening report
sampai segala hal yang harus kulakukan sehingga mengharuskanku datang ke NF
Mampang hampir setiap hari, tak apa, ini adalah bagian dari perjuangan yang
semoga setara dengan hasilnya kelak.
Di dalam intensif ini, ada suatu
program khusus, yaitu stase, didalam program ini, mabiters diharuskan untuk
menetap di suatu kost, kebetulan saat itu mabiters ganteng ditempatkan di
cibubur. Di hari-h, berangkatlah aku dan mabiters ganteng menuju lokasi,
setibanya disana, aku sedikit terkejut dengan kondisi kostnya, aku sudah
memrediksi bahwa kondisinya akan seperti ini, namun ternyata lebih parah
daripada yang aku duga, bahkan sampai lampu pun tidak disediakan. Mabiters
ganteng yang saat itu terdiri dari delapan orang, mabiters tinggal di kost yang
besarnya tidak lebih dari kelas di NF Mampang, bisa dibayangkan betapa
sempitnya, dan juga pengap didalamya. IPA mendominasi kebanyakan dari Mabiters
ganteng, sedangkan mabiters ipsnya hanya ada aku dan seorang mabiters lagi.
Oke, ini menjadi suatu tantangan, dimana aku adalah kelompok minoritas,
kegiatan ini dimulai pada hari selasa, setelah try out di NF selesai, dan berakhir dihari Jum’at. Mabiters ganteng
dipindahkan les NFnya ke NF Cibubur, aku bertemu dengan banyak orang baru
disana, suasana yang begitu ramai, jauh berbeda dengan kondisi NFku di Kalibata
City, yang sepi, kecil, namun luas. Jujur stase ini sebenarnya kurang efektif,
karena belajarku dirumah lebih banyak dan lebih nyaman, ini juga disebabkan
karena kakak mabitnya sendiri jarang datang ke kostan mabiters untuk membantu
belajar, apalagi kebanyakan dari kakak mabiters yang datang adalah kakak kakak
IPA, yang ketika belajar aku kurang paham apa yang mereka bicarakan, akhirnya,
setelah stase pertama selesai, diadakan lagi stase kedua di minggu depanya,
namun karena ada beberapa hal yang membuatku berhalangan mengikuti stase kedua
ini.
Kini sampailah aku pada ujung Mabit,
ada satu lagi program yang ditunggu-tunggu, Mabit Race, ini adalah program yang
sangat dinanti, baik oleh mabiters maupun kakak mabiters, karena dalam program
ini, mabiters ditantang untuk berkeliling Jakarta dengan budget yang sangat
menyedihkan, kala itu kami dibekali hanya dengan 75 ribu rupiah, plus patungan
dari masing masing sebesar 15 ribu, acara ini dimulai pada malam minggu untuk
mabiters ganteg, dan mabiters cantik berkumpul esok paginya. Pagi hari di hari
minggu itu, kami semua berkumpul di NF Mampang, dengan tampang tampang
sumringah penasaran, kami pun berangkat, kami dibagi menjadi empat kelompok, 2
kelompok ganteng, 2 kelompok cantik. Bismillahirrahmanirrahim, berangkatlah
kami menuju tujuan awal, aku dan kelompoku sedikit apes, kami berangkat yang
terakhir, mendapat clue yang aneh, yaitu “welcome”
setelah berpikir panjang, ternyata itu adalah bunderan HI, cukup jauh. Kami
memulai perjalanan dengan menumpang bus Transjakarta menuju Bunderan HI,
sesampainya disana, kami bertemu dengan kakak mabit, mereka memakai baju yang
seragam, baju berwana abu-abu. Disana, kami ditugaskan untuk mencari limapuluh
tanda tangan, lalu mengerjakan soal yang isinya pelajaran IPA semua, kebetulan
di kelompok ada yang anak IPA, Alhamdulillah, selesai mengerjakan soal, kami
mendapatkan clue yang kedua, clue tersebut terdapan didalam tts, setelah
kata-kata tersusun, ditemukanlah kata Sunda Kelapa, awalnya kami mengira itu
adalah daerah di kawasan Jakarta Utara, namun setelah dipikir kembali, ternyata
itu adalah Masjid Sunda Kelapa yang jaraknya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan
berjalan kaki, kami pun segera bergegas menuju Masjid Sunda Kelapa. Setibanya
di Masjid Sunda Kelapa, kami mendapat tugas untuk menunaikan shalat dhuha,
kebetulan saat itu Masjid sedang ramai karena ada orang yang menikah. Setelah
selesai shalat dhuha, kami diminta oleh kakak pengajar untuk menyanyikan sebuah
nasyid, kami memutuskan untuk bernyanyi lagu ”insyaallah” karya Maher Zain,
setelah bernyanyi, diadakan sebuah games, di games ini kami melawan kelompok
mabiters ganteng lainya, games ini berisi pertanyaan seputar keislaman,
sayangnya kami kalah, tak apa. Berakhir semua games dan tugas di Masjid Sunda
Kelapa, kami mendapat clue untuk pergi ke Jatinegara, dana diberi nomer seorang
kakak mabit, disinilah…. Semua terjadi.
Jatinegara? Dimananya Jatinegara? Karena
Jatinegara itu sangat luas, pada akhirnya kelompok kami memutuskan untuk
berkoalisi dengan keompok ganteng lainya, jadiah koalisi ganteng. Di perjalanan
aku sibuk menelfon kakak mabit untuk mencari tahu dimanakah posisi kakak mabit
berada, awalnya kami diberi tahu bahwa mereka berada di Masjid At-tijarah, apa
itu Masjid At-tijarah? Dimana itu? Kami tidak tahu, yang pasti itu berada di
Jatinegara. Akhirnya koalisi ganteng turun di Jatinegara, langsung saja kami
bertanya dimana Masjid At-tijarah itu berada, satu dua orang kami tanya tak
satu pun yang mengetahui dimana Masjid tersebut, yang mereka tahu hanya ada dua
Masjid disekitar sana, akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi kedua Masjid
tersebut, sesampainya, kami mendapati bahwa kedua masjid tersebut bukanlah
Masjid At-tijaarah, kami bingung, aku menelfon lagi, berulang-ulang, lalu
kakaknya berkata bahwa mereka berada di JTC atau Jatinegara Trade Centre,
masjidnya berada didalam tempat tersebut. Oke lokasi baru, kami mulai bertanya
tanya kembali, namun tetap sedikit orang yang mengetahuikeberadaan tempat itu,
aneh rasanya, mengapa tak ada seorangpun yang tahu dimana JTC itu, kami mulai
penasaran, semua orang kami tanyai, lalu ada yang berkata bahwa JTC berada
didepan PGJ atau Pusat Grosir Jatinegara. Kami pun bergegas menuju PGJ,
ditengah jalan kami bertemu dengan tukang es yang rasanya super enak, melebihi
es manapun, mungkin melebihi Haagen-dazs, ah tapi lebih enak Haagen-dazs, namun
harganya sangat murah, hanya dengan duaribu rupiah, bisa mendapat sebatang es
dibalut dengan coklat, ini seumpama es walls m*gnum yang harganya jauh
berkali-kali lipat lebih murah. Sesampainya kami di PGJ, kami lelah, bingung,
pusing, bĂȘte, dan semua hal yang tidak enak, aku bertanya kepada satpam setempat
dimana lokasi JTC itu, ternyata oh ternyata JTC betul betul ada didepan PGJ,
dan ternyata lagi, JTC adalah pasar Jatinegara, bro, Jatinegara Trade Centre
itu nama yang terlalu keren untuk sebuah pasar, mengapa tidak sebut saja pasar
Jatinegara? Aku yakin semua orang tahu dimana pasar itu. Kelelahan namun tetap
semangat, kami bergegas menuju JTC, sesapainya, kami bertanya dimana Masjid
At-tijaarah berada, ya, Masjid ini berada di lantai paling atas gedung JTC.
Siapa gerangan yang bakal tahu dimana Masjid ini, pikirku, ah sudahlah yang
penting cepat tiba. Setibanya disana, kami langsung bergegas untuk shalat
dzuhur, setelah shalat dzuhur, kami mendapat tugas untuk membeli kolang-kaling
dan meminta tiga orang untuk mematikan rokoknya, dan harus dibuat video. Gila,
pikirku, bisa bisa habis kita dihajar masa. Tapi tetap kami mencoba untuk
mengerjakan tugas yang nyeleneh ini, dan pada akhirnya dapat juga. Fiuuh… benar
benar memang.
Selesai mengerjakan kedua tugas itu, tak
ketinggalan juga ada tugas mengerjakan soal, kali ini ada soal IPSnya, boleh
juga. Selesai dari Jatinegara, kami mendapatkan clue menuju Taman Langsat,
sebuah taman berlokasi di Blok M, sangat jauh. Dengan budget yang semakin
menipis, kamipun menunda waktu makan kami, lelah lapar harus kami lupakan
sesaat, masih ada tugas yang akan menanti. Kami menumpang bus Transjakarta
untuk menuju Taman Langsat, dan bisa ditebak betapa penuhnya Transjakarta yang
kami tumpangi. Sesampainya kami di Taman Langsat, kami bisa sedikit
beristirahat dan shalat ashar, lalu tugas di tempat ini adalah membacakan puisi
bertemakan SBMPTN, tanpa pikir panjang dan buang waktu, aku langung maju dan
mewakili kelompoku dan mengutarakan isi hatiku mengenai SBMPTN, kelompoku menjadi
kelompok yang pertama menyelesaikan tugas di lokasi ini, namun karena komitmen
koalisi ganteng, kami menunggu kelompok koalisi ganteng lainya. Melanjutkan ke
lokasi terakhir, berlokasi di Pasaraya Blok M, ini mengharuskan kami untuk berjalan kembali ke halte tempat kami
turun sebelumnya. Sesampainya kami di Pasaraya, kami dibuat pusing oleh kakak
mabit, tak habis pikir apa yang akan aku lakukan disana, untuk makan pun kami
tak ada uang, mau melakukan apa disini? Lalu kami dilempar kesana kesini, mencari
kakak pj di Pasaraya, yang bahkan kami tidak tahu siapa dia, laki laki atau
perempuan, kami bingung, kami hilang arah. Jujur ini adalah lokasi akhir yang
sebenarnya aku sangat tidak nyaman disini, satu hal yang membuatku sedikit
nyaman adalah masjidnya yang bagus, bisa dibilang sangat bagus mungkin. Sampai
di lokasi terakhir ini, kami masih mendapat tugas, yaitu mewawancarai tiga
orang asing disini, namun karena kami sudah lelah dan pusing, akhirnya kami
tidak mau melakukan hal ini. This is getting more ridiculous. Oke, akhirnya
kami diberi uang tambahan sebesar 25 ribu untuk beli makan, tapi apa kiranya
yang bisa dibeli dengan 25 ribu untuk sekelompok di dalam sebuah mall? Akhirnya
kami memutuskan untuk membeli minum. Selesai sudah semua rangkaian acara Mabit
Race, kami berkumpul didepan Pasaraya,
disini koalisi ganteng hancur karena dibuat tantangan akhir, semacam death race katanya, siapa yang pertama
sampai mampang, menang, kami bersemangat, walau aku pribadi agak kurang setuju,
yang aku ingin kita menang bersama, sampai bersama sama, apa gunanya menang
jika tidak semuanya bahagia? Tapi begitulah keputusanya. Kelompoku menumpak
taksi kali ini, kami rasa ini adalah sarana umum yang tercepat dan ternyaman,
kebetulan kondisi keuangan masih mendukung, penghematan akhirnya ada hasilnya.
Sesampainya di mampang, kami pikir kami adalah kelompok yang pertama sampai di
Mampang, namun dua kelompok Mabiters cantik tiba terlebih dahulu dibanding kami,
dan yang lebih mengejutkan ada kelomok yang menumpang taksi lebih dari tujuh
orang, wow. Akhrinya, kami lelah, namun cukup puas, setelah acara selesai dan
aku pulang, aku langsung menuju restoran terdekan untuk memenuhi kelaparan ku
yang dari tadi siang sudah meraung, ya semacam balas dendam.
Akhirnya sampailah aku di penghujung
mabit, semua suka duka telah aku lewati, bersama seluruh keluarga Mabit NF, aku
yakin aku tidak akan bisa menghadapi semua ini jika aku berjalan sendirian,
namun disini aku berjalan bersama, bersama itu lebih kuat, lebih bermakna, dan
lebih indah, karena sesungguhnya banyak hikmah dibalik kebersamaan ini, tawa,
canda, sedih dan tangis terlewati seakan baru kemarin terjadi, mereka yang
tadinya tak kukenal, kini dengan yakin bisa kusebut mereka adalah keluargaku,
bagian dari serpihan cerita hidupku yang kuharap makin bermakna kedepanya,
mereka adalah Mabiters beserta kakak Mabit. Kusampaikan doa terbaiku dalam
tulisan ini untuk kita semua, Mabiters dari awal hingga akhir nanti, semoga
sukses selalu, sukses yang di ridhai Allah, sukses dunia akhirat. Dan juga aku
meminta doa dari semua yang membaca tulisan ini, berkenan maafnya jikalau ada
kata kata yang kurang enak dibaca, begitu banyak luapan emosi yang tertuliskan
dalam tulisan singkat ini. Sekian, doakan kami dalam perjuangan SBMPTN ini yang
tinggal menghitung hari.

Mabiters 2015